Selamat Datang ~ Ahlan wa Sahlan

Siswa Siswi SDI Mohammad Hatta

Upacara

Uswah Hasanah untuk siswa -siswi SDI Mohammad Hatta

Metode WAFA

Belajar Mengaji dengan Metode WAFA - metode otak kanan


SD Islam Mohammad Hatta
Mencerdaskan peserta didiknya
Menanamkan iman dan taqwa
Membina akhlaqul karimah

Mencerdaskan peserta didik
Dalam bingkai iman dan taqwa
Mencerdaskan peserta didik
Dalam bingkai iman dan taqwa

Hantarkan ke arah ulil albab
Insan kamiln jadi dambaan
Cinta tanah air kebanggaan
Bahagia dunia akhirat

Mencerdaskan peserta didik
Dalam bingkai iman dan taqwa
Mencerdaskan peserta didik
Dalam bingkai iman dan taqwa

Menjunjung tinggi perintah agama Islam
Hormat dan patuh kepada orang tua dan guru
Bersih lahir dan batin
Rajin belajar, giat beribadah, dan beramal
Disiplin dan bertanggungjawab
Berguna bagi masyarakat dan bangsa

Memiliki dasar aqidah dan akhlak yang baik
Memiliki keluhuran budi pekerti
Berperilaku sosial baik dan islami
Berbakti kepada orang tua
Sholat dengan kesadaran

Prestasi akademik maksimal
Disiplin, bertanggung jawab dan jujur
Percaya diri

Budaya bersih dan berwawasan lingkungan
Membaca Al Quran dengan tartil Hafalan Juz Amma
Budaya Membaca
Kemampuan berkomunikasi baik
Sehat jasmani dan rohani
Mudah beradaptasi dengan lingkungan
Pembelajaran yang mandiri

GURU PANGGILAN HATI ATAU CITA-CITA?

Kupandang bangunan yang ada di depanku tanpa kata yang keluar dari benakku. Inilah bangunan yang sampai kini saya berada di dalamnya, boleh dikatakan inilah rumah keduaku setelah rumahku sendiri. Puji syukur kepada Allah SWT yang bisa saya ucapkan dengan lirih setiap saat. Inilah saya sekarang, “Guru”. Profesi yang tidak pernah menjadi cita-citaku tapi kini saya seorang guru Sekolah Dasar. Allah telah mengarahkan dan membimbingku ke profesi yang sangat hebat bagiku.

            Pengalaman masa kecil, dimana orangtua sering menyuruhku mengajari kelima adik-adikku yang akhirnya membawaku menjadi guru. Dulu entah kenapa saya yang harus mengajari adik-adikku dalam belajar?.Dengan sikap malas dan ogah-ogahan saya terpaksa menuruti orangtua untuk mengajari mereka yang kenyataannya jenjang mereka berbeda-beda. Bagaimana saya harus mengajari mereka yang berbeda jenjang?yang satu TK, SD kelas 2, SD kelas 4, SD kelas 5, dan saya sendiri ketika itu masih kelas 1 SMP di Surabaya. Mau menangis rasanya semua harus saya tangani dalam waktu yang bersamaan. Tidak ada papan tulis untuk menulis, dengan tidak hilang akal kalender saya balik menjadi papan tulis untuk yang SD kelas 2 dan 4, adik yang TK menulis di buku halus dengan tulisan yang font hurufnya 14, sedangkan adik yang kelas 5 menggunakan lemari makan kayu yang dapat kutulis dengan kapur tulis ketika itu. Dalam waktu yang bersamaan saya dapat mengajari kelima adikku sekaligus, jadi adil menurutku. Bagaimana dengan tugas-tugasku? Saya mengalah belajar setelah mengajari mereka, capek memang tetapi semua itu saya nikmati karena memang hampir setiap hari saya lakukan. Lucu, itu yang ada dalam hatiku sekarang bila mengingat semuanya. Meskipun berat, tetapi saya pun dapat menyelesaikan tugas-tugasku dengan baik, kecuali pelajaran bahasa Jawa(daerah) yang memang saya tidak bisa sama sekali ketika saya kecil. Dari kecil saya dan adik-adik harus mengikuti orangtua yang selalu berpindah-pindah kota dan pulau, karena tugas bapak yang bekerja di salah satu bank pemerintah. Berat bagi bapak yang mempunyai 7 anak plus ibu dan pembantu rumah tangga ketika itu. Jarak kelahiran kami terpaut setahun sampai dua tahun, jadi terlihat masih kecil-kecil sekali. Kakak yang introvert tidak bisa mengajari adik-adik termasuk saya karena takut saja(segan karena pendiam sekali), padahal kakak sangat pandai sekali dalam bidang akademik dan selalu berprestasi. Terkadang membuatku iri dengan segala kepandaian yang dia punya. Karena merasa tidak begitu pandai seperti kakak, saya sering menolak mengajari adik-adik pada awalnya; tetapi kasihan juga melihat mereka merengek-rengek minta diajari mengerjakan PR. Kata mereka kalau diajari kakak saya tidak paham apa yang diterangkan. Jadi dari alasan itulah saya merasa dibutuhkan oleh adik-adik saya, dan saya anggap mainan sekolah-sekolahan agar tidak menjadi beban untuk saya. Alhamdulillah semua berjalan lancar berkat bimbingan Allah SWT juga.

            Setelah lulus kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Malang tahun 1992(wisuda 1993), saya berniat bekerja di konsulat atau perusahaan asing di Surabaya atau Daerah Malang. Banyak lamaran yang kutulis dan kukirim entah tidak saya hitung. Menunggu dengan harapan dipanggil atau mendapat surat balasan ketika itu. Ada beberapa yang sempat saya ikuti testnya tetapi di tahap wawancara selalu gagal karena ada satu pertanyaan yang selalu saya jawab TIDAK AKAN yang membuatku tidak diterima. Melepas jilbab hanya untuk bisa diterima di kantor tersebut, sampai kapanpun tidak akan pernah. Nah, lamaran menjadi guru bimbingan belajar yang selalu menerima saya, padahal itulah pilihan terakhir saya bila bekerja di perusahaan atau kantor tidak diterima. Tragis kesannya, tetapi jujur inilah kenyataannya yang kualami.  

Guru SD Islam Mohammad Hatta tidak pernah terbayang di pikiran saya. Saya tinggal di sekitar sekolah . Pembangunannya juga saya mengetahuinya dengan baik dari pondasi sampai berdiri megah satu lokasi dengan masjid Mohammad Hatta yang setiap bulan Romadhon dan sholat Idul Fitri dan Idul Adha pasti sholat di masjid tersebut. Dan saya pun tidak pernah berniat melamar menjadi guru di sini ketika itu karena setelah menikah saya berhenti bekerja dan fokus mengurus keluarga. Setiap hari saya melewati sekolah ini, dan ketika SDI Mohammad Hatta sudah dibuka dan sudah menerima 10 murid pun saya tahu, karena anak-anak sering belajar di aula dan terlihat dari jalan sekitar sekolah. Saya bergumam dalam hati, sekolah baru dengan 10 murid, kasihan sekali dan guru yang tampak hanya 2 orang ketika itu. Sepi dan entah bisa berkembang berapa tahun lagi pikir saya.

            Seiring berjalannya waktu pada tahun 2004, hari Jumat sore saya mendapat telpon dari Pak Toha pegawai TU SDI Mohammad Hatta bahwa saya diminta ketua yayasan YANAIKA untuk datang ke SDIMH hari Sabtu pukul 08.00 untuk wawancara. Saya kaget dan heran bagaimana beliau mengetahui nomor telpon rumah saya, dan lebih kagetnya lagi saya tidak pernah melempar lamaran guru di sekolah tersebut. Setelah beliau menerangkan bagaimana mendapatkan nomor saya dan alasan menyuruh saya datang besok pagi, saya baru menyadari bahwa inilah saatnya saya bertindak dan bangkit melihat masa depan saya setelah sekian tahun vakum mengajar. Memang kalau dudah panggilan hati yang paling dalam tidak dapat dihapus atau dihilangkan begitu saja. Ketua yayasan mewawancara saya face to face,  keputusannya langsung dan sempat mengagetkan saya. Hari Senin saya diminta mengajar kelas 1 dan 2 untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Dari awal cerita ini, saya mulai menjadi guru di SDI Mohammad Hatta. Banyak cerita yang saya alami, suka duka menjadi guru juga banyak menggembleng saya untuk lebih tegar dan belajar lebih giat lagi. Amanah Allah (peserta didik) sangat beragam dan dari peserta didiklah saya banyak belajar karakter yang berbeda-beda. Semoga cerita ini menjadikan saya tidak ujub(sombong), tetapi menjadi inspirasi bagi semua orang bahwa guru itu bukan cita-cita tetapi panggilan hati yang paling dalam dan tidak dapat dinilai apapun, itu yang saya rasakan. Kepuasan batin melihat peserta didik dapat berkembang dengan karakter, akhlak yang baik, dan merasa puas dan nyaman bersekolah di sekolah ini. Mengingat kenangan bersama para alumni SDIMH membuatku tersenyum sendiri. Bagaimana tidak dari mereka yang tidak dapat membaca ketika awal mendaftar sampai lulus dan sekarang mungkin sudah bekerja atau berkeluarga, membuat saya bahagia. Apalagi bila kami guru-guru lama dikunjungi mereka, bahagia sekali. Saya berharap dimanapun mereka berada semoga sukses dan diberi kemudahan oleh Allah SWT, Kami selalu terbuka menerima kunjungan mereka ke sekolah yang kita cintai bersama .Semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang lain, Aamiin. Semoga saya bisa istiqomah dan tetap dapat mendidik dan mendampingi peserta didik sampai lulus dengan baik.

PERKEMAHAN JUMAT SABTU 2019

Jiwa kepemimpinan dan pembentukan karakter siswa perlu adanya pelatihan, SD Islam Mohammad Hatta (SDIMH) telah melangsungkan kegiatan Perjusa (Perkemahan Jumat Sabtu) pada hari Jumat – Sabtu, tanggal 11-12 Oktober 2019 yang bertempat di Kawasan Perkemahan Bedengan, Kota Malang.

Apel Pembukaan PERJUSA

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan membawa keceriaan bagi anak-anak. Hal ini terlihat dari rasa antusias siswa pada saat pemberangkatan ke lokasi perkemahan. Pemberangkatan dilakukan setelah melaksanakan sholat Jumat di sekolah. Setibanya di perkemahan, siswa menempati tenda sesuai regunya masing-masing lalu dilanjutkan dengan Apel Pembukaan, didampingi oleh Bapak Tomi Ariansyah, S. Pd sebagai Pembina Apel. Setelah Apel, siswa mendapat materi Kepramukaan dari Kak Tri dan Kak Rico, dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan api unggun dan jelajah pada malam hari setelah sholat Isya berjamaah.

Kegiatan upacara api unggun berlangsung khidmat. Kegiatan diawali dengan pembacaan Dasa Dharma Pramuka secara bergantian. Pembacaan Dasa Darma dilakukan oleh Tim Pramuka yang terdiri dari siswa-siswi kelas 4 dan 5. Setelah seluruh Dasa Darma telah dibacakan, Bapak Farid sebagai Pembina Upacara segera meyalakan api unggun.

Upacara Api Unggun

Kegiatan selanjutnya adalah jelajah yang merupakan kegiatan terakhir di hari pertama Perjusa. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih kerjasama siswa-siswi, dan melatih keterampilan Kepramukaan seperti membaca sandi. Kegiatan ini berakhir pada pukul 10.30 WIB.

Pada hari kedua, hari Sabtu, kegiatan dimulai dengan melaksanaan sholat subuh berjamaah. Meskipun udara di Bedengan cukup dingin, ternyata siswa-siswi tetap bersemangat untuk berwudhu dan mendirikan sholat di alam terbuka. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan senam pagi dan melakukan persiapan untuk outbound.

Mancakrida siswa

Kegiatan outbound berlangsung seru dan menyenangkan. Siswa-siswi bersemangat menerima tantangan di setiap pos yang sudah disediakan. Ada permainan Perahu Pecah, Tangkap Bola, Roda Manusia, Estafet Pingpong yang dilakukan di area hutan pinus, dan Jalan Zigzag serta Estafet Air yang dilakukan di daerah aliran sungai.

Pada pukul 11.00 dilakukan Apel Penutupan, yaitu kegiatan terakhir pada kegiatan Perjusa. Apel dipimpin oleh Ananda Dzaky, didampingi oleh Bapak Tomi Ariyansyah, S.Pd sebagai Pembina Apel. Sebelum kembali pulang, tidak lupa kami memberikan apresiasi kepada regu-regu terbaik yang telah berhasil mendapat skor terbaik di setiap tantangan. Semoga pengalaman-pengalaman baru yang siswa-siswi dapatkan selama Perjusa membawa dampak positif bagi diri masing-masing. Menjadikan mereka insan yang cerdas, berimtaq, dan berbudaya lingkungan. Salam Pramuka !

Untuk informasi tentang Penerimaan siswa baru dan segala sesuatu tentang SDI Mohammad Hatta silahkan hubungi kami di :
SDI Mohammad Hatta
Jl. Simpang Flamboyan No. 30 Malang
Telp : 0341-413003
WA : 081990006100

Belajar Mengajar

Menurut wikipedia, belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon . Menurut KBBI adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Belajar menurut beberapa ahli, belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman ( Winkel ). Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat ( W. Gulo (2002: 23) ). Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Djamarah). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktifitas aktif dengan linkungan untuk mengubah tingkahlaku, baik tingkah laku dalam berfikir, bersikap, dan berbuat. Sedangkan mengajar adalah suatu bentuk komunikasi dengan tingkatan kompleksitas yang tinggi (Andri Hakim). Mengajar adalah bentuk usaha untuk dapat menciptakan suatu system lingkungan yang dapat memungkinkan untuk terjadinya proses belajar secara optimal (Gulo). Mengajar adalah suatu cara yang terbaik untuk bersedekah. Mengajarkan ilmu dapat mendekatkan diri kepada Tuhan YME (HR Ibn Abdil-Barr) dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu kominikasi yang terstruktur sehingga tercipta suasana belajar yang bertujuan untk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda bahwa

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Belajar mengajar adalah suatu aktifitas aktif untuk mengubah tingkahlaku, baik tingkah laku dalam berfikir, bersikap, dan berbuat dalam menciptakan komunikasi supaya tersampaikan pesan-pesan ilahi.terkadang para guru enggan untuk belajar bagaimana cara mengajar, sehingga yang terjadi adalah ruh belajar mengajar itu tidak tersampaikan dengan baik. sebenarnya ilmu itu bisa bermanfaat jika seseorang dengan ilmunya akan lebih mendekatkan diri kepada Allah jadi tidak mungkin ada orang yang belajar dalam hal ini di sekolah dengan ilmu yang didapat semakin menjauh dari Allah. berarti proses mengajarnya tidak sampai pada pesan mengajar itu sendiri. Oleh sebab itu marilah para guru yang mempunyai andil dalam mengajar membawa siswa-siswa kita dengan ilmu yang didapat dari kita semakin dekat dan mendekat padda Allah azza wajalla.( frd)